Monday, October 14, 2013

ARAFAH, TEMPAT MUSTAJAB MEMOHON KEAMPUNAN DARI NYA


Wukuf di Arafah adalah rukun haji yang kedua tetapi yang utama dari rukun-rukun haji itu.
Itu adalah berdasarkan kepada sabda Rasulullah s.a.w yang bermaksud : "Dari Abdul Rahman bin Ya'mur r.a katanya: Bahawa Rasulullah s.a.w menyuruh seorang penyeru menyerukan : "Haji itu ialah "Arafah". Barang siapa datang pada malam tanggal sepuluh, sebelum terbit fajar, bererti dia telah mendapatkan Arafah" (Riwayat - Ahmad dan Ashabus Sunan)

WAKTU WUKUF


Apabila tiba 8 atau 9 Zulhijjah, setelah berihram (bagi mengerjakan haji secara tamattu') maka berangkatlah untuk berwukuf di Padang Arafah. Arafah letaknya di luar Tanah Haram dan jauhnya dari Mekah lebih kurang 12 batu atau 18 kilometer.

Masa yang wajib berada atau berwukuf di Arafah ialah di awal waktu Zuhur pada 9 Zulhijjah, hingga sebelum fajar pada hari Nahar, iaitu 10 Zulhijjah, tetapi tidak semestinya berada di Padang Arafah itu sepanjang masa yang tersebut kerana sahlah berhenti disitu walaupun sebentar sahaja pada masa di antara Zuhur 9 Zulhijjah hingga sebelum fajar 10 Zulhijjah.

Masa yang sebaik-baiknya ialah sebahagian dari kesembilan dan sebahagian malam kesepuluh. Sebagaimana sabda Rasulullah s.a.w. yang bermaksud: Rasulullah s.a.w berrsabda "Barangsiapa dapat berada di Arafah sebelum terbit fajar (pada hari yang kesepuluh Zulhijjah maka dapatlah haji itu"




Wukuf adalah puncak  haji. Secara fizikal, wukuf Arafah adalah puncak berkumpulnya seluruh jamaah, yang berjumlah jutaan, dari penjuru dunia dalam waktu bersamaan. Secara amaliah, wukuf Arafah mencerminkan puncak penyempurnaan haji kita. Di Arafah inilah Rasulullah menyampaikan khutbahnya yang terkenal dengan nama khutbah wada’ atau khutbah perpisahan, kerana tak lama setelah menyampaikan khutbah itu beliaupun wafat.



Di saat itu, ayat Al-Qur’an, surat al-Maa’idah ayat 3 turun sebagai pernyataan telah sempurna dan lengkapnya ajaran Islam yang disampaikan Allah SWT melalui Muhammad saw. Firman Allah SWT : “..Pada hari ini telah Ku-sempurnakan untuk kamu agamamu dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku dan telah Ku-ridhai Islam itu menjadi agama bagimu….” (al-Maa’idah:3)

Arafah merupakan gambaran padang Mahsyar, yang nantinya semua makhluk dikumpulkan disana sebelum melangkah ke syurga atau neraka. Kehadiran kita di Arafah memberi erti dan nuansa akhirat dengan Mahsyarnya, sekaligus merenunginya untuk bersiap-siap menghadapi hal itu.

Arafah juga merupakan tempat bertemunya Adam dan Hawa setelah beratus tahun saling mencari di muka bumi.

Wukuf artinya hadir dan berada di Arafah pada waktu tertentu antara waktu dzuhur dan ashar.

Disini masing-masing jamaah dipersilakan untuk mengkondisikan dirinya berkonsentrasi kepada Allah, melakukan perenungan atas dirinya, apa yang telah dilakukan selama hidupnya, merenungi kebesaran Allah melalui Asmaul Husna-Nya, merenungi hari akhirat.

Bentangkan dosa-dosamu di padang Arafah ini, ingatlah satu persatu dosa-dosa yang pernah engkau lakukan, ingatlah betapa waktumu selama ini habis terbuang sia-sia kerana lebih banyak digunakan untuk memperindah kehidupan duniamu. Pengakuan yang jujur dan ikhlas, tanpa rasa sombong dan takabur, di hadapan Allah adalah puncak amaliah haji. Itulah Arafah, wukuf kita adalah untuk mendefinisikan hakikat keberadaan kita dihadapan Allah, sekalipun sebenarnya Allah telah mengetahui itu semua.

Pandanglah langit Arafah. Renungilah bahwa pada hari yang mulia itu Allah SWT sedang memanggil para malaikatnya berkumpul di langit Arafah, dan membangga-banggakan umatnya yang sedang wukuf di Arafah di hadapan para malaikatnya di langit.

Disebutkan dalam hadits qudsi bahwa Allah berfirman bahwa :
“ Lihatlah kepada hamba-Ku di Arafah yang lesu dan berdebu. Mereka datang kesini dari penjuru dunia. Mereka datang memohon rahmat-Ku sekalipun mereka tidak melihatku. Mereka minta perlindungan dari azab-Ku, sekalipun mereka tidak melihat Aku”

Allah sangat memuliakan hari wukuf di Arafah. Hari itu, Allah mendekat sedekat-dekatnya kepada orang-orang yang wukuf di Arafah untuk mendengarkan ungkapan dan keluhan hati mereka, menatap dari dekat wajah dan perilaku mereka. Nabi Muhammad saw bersabda :
“ . . . Ia (Allah) mendekat kepada orang-orang yang di Arafah. Dengan bangga Ia bertanya kepada para malaikat, Apa yang diinginkan oleh orang-orang yang sedang wukuf itu ? “

Pada hari itu, Allah senang sekali jika kita berdoa kepada-Nya. Ia mengabulkan semua doa mereka disana, sebagaimana tersebut dalam hadist yang lain :

Sabda Rasullullah saw : “Diantara berbagai jenis dosa, ada dosa yang tidak akan tertebus kecuali dengan melakukan wukuf di Arafah” (disinadkan oleh Ja’far bin Muhammad sampai kepada Rasulullah saw).

Bahkan Allah murka ketika manusia tidak yakin dosanya diampunkan di Arafah, seperti sabda Rasullullah saw : “Yang paling besar dosanya diantara manusia adalah seseorang yang berwukuf di Arafah lalu berprasangka bahwa Allah tidak memberinya ampun” (Al Khatib dalam kitab Al-Muttafaq wal Muftaraq)

Demikian agung dan mulianya hari Arafah ini, meski wukuf hanya beberapa jam saja. Sungguh sangat penting berdoa di Arafah, disaksikan dari dekat oleh Allah SWT dan dibangga-banggakan-Nya kita di depan para malaikatnya.

“Hai malaikat-Ku ! Apa balasan (bagi) hamba-Ku ini, ia bertasbih kepada-Ku, ia bertahlil kepada-Ku, ia bertakbir kepada-Ku, ia mengagungkan-Ku, ia mengenali-Ku, ia memuji-Ku, ia bershalawat kepada nabi-Ku. Wahai para malaikat-Ku ! Saksikanlah, bahwasanya Aku telah mengampuninya, Aku memberi syafaat (bantuan) kepadanya. Jika hambaku memintanya tentu akan Kuberikan untuk semua yang wukuf di Arafah ini.”
(Imam al-Ghozali)

sumber: zanas.wordpress

No comments:

Post a Comment