Rampasan
kuasa tentera Mesir menggulingkan Presiden Morsi memerlukan analisis
lebih mendalam, termasuk sejarah panjang pemerintahan diktator negara
itu dan latar belakang mengenai liku-liku perit yang dilalui Ikhwanul
Muslimin selama hampir 60 tahun.
Prof Dato' Dr Mohammad Redzuan
Othman, Dekan Fakulti Sastera dan Sains Sosial, Universiti Malaya
dirasakan tokoh akademik dan pengamat politik Timur Tengah yang paling
layak memberikan pandangan terhadap krisis di Mesir. Wakil Harakah, AHMAD LUTFI OTHMAN dan ARIF ATAN menemubual Dr Redzuan di kediamannya, Sungai Ramal, Kajang, pertengahan Julai lalu.
HARAKAH:
Presiden pertama Mesir yang dipilih rakyat dalam satu pilihan raya yang
diakui adil dan bebas telah digulingkan hanya selepas setahun berkuasa.
Ada pihak melihat dalang di sebaliknya adalah pihak Barat, terutamanya
Amerika Syarikat. Sebagai tokoh akademik yang lama mengikuti politik
Mesir, termasuk gerakan Ikhwanul Muslimin, tentu Prof lebih arif tentang
apa sebenarnya yang berlaku?

Syeikh Omar Abdul Kafi
Dalam sebuah siaran television satelit, Syaikh Omar Abdul Kafi, seorang ulama yang biasa memberikan ceramah agama dibeberapa television mengatakan kepada seluruh anggota Ikhwanul Muslimin dan Parti Kebebasan Keadilan supaya untuk terus bersabar dan sentiasa berjuang.
"Bersabarlah dan terus berjuang, perjuangan kalian saat ini masih jauh dari perjuangan Rasulullah Saw yang lebih berat dan lebih keras hinaannya, mereka bahkan menghina Allah Swt dan sentiasa memerangi Rasulullah Saw. Berhati-hatilah kalian Ikhwan, dalam pertempuran perjuangan kalian."
Sebuah pernyataan yang disiarkan pada saluran television Satelit sekitar 90 minit. Syaikh Omar Abdul Kafi menyatakan pernyataan tersebut atas rasa kecintaannya kepada Ikhwanul Muslimin yang merupakan kelompok Islam terbesar di Mesir dan mempunyai pandangan Wasatan (Moderat) dalam Islam, sebagaimana umat Islam di Mesir.
Menurut Syaikh Omar Abdul Kafi, Ikhwanul Muslimin telah mampu bertahan di Mesir selama
80 tahun dibawah pemerintahan otoriter, akan tetapi ketika tiba kesempatan untuk ikut bermain dalam perpolitikan dan ikut membangun Mesir, Ikhwanul Muslimin dikhianati dan diserang oleh beberapa pihak yang tidak menginginkan Ikhwanul Muslimin berkuasa di Mesir.
Syaikh Omar Abdul Kafi
menerangkan bahwa majoriti masyarakat Mesir telah mendukung Ikhwanul Muslimin untuk memerintah negara dan ini merupakan kehendak rakyat Mesir yang mesti dihormati. Ikhwanul Muslimin juga telah berniat sangat baik untuk bekerjasama dengan beberapa fraksi yang kontra dengannya, bukan memeranginya. Namun sayang sikap Ikhwanul Muslimin ini di tentang dan dikhianati.
Terakhir Syaikh Omar Abdul Kafi mengatakan ,"Tampaknya bahwa asumsi Ikhwanul Muslimin yang mencuba untuk menangani dengan cara yang baik serta berusaha untuk menghargai seluruh elemen guna menjaga kehancuran Mesir selama beberapa tahun terakhir, ternyata tidak berbuah dengan baik, malah dalam politik Mesir bahwa niat baik tidak berlaku dalam dunia politik.
Seandainya Ikhwanul Muslimin ingin menguasai negara dengan cara kekerasan, tentu tidak sulit untuk melakukannya. Tetapi keindahan akhlaq Ikhwan yang sentiasa bersabar dalam berbagai cubaan merupakan buah yang menghasilkan kenikmatan perjuangan hingga akhirnya mampu langkah demi langkah mewujudkan impiannya, sebuah impian yang diinginkan oleh seluruh anggota Ikhwanul Muslimin."
http://www.suaranews.com