
Surah ini Makkiyah, terdiri dari 4 ayat. Merupakan surah tauhid dan pensucian nama Allah Taala. Ia merupakan prinsip pertama dan pilar utama Islam. Oleh kerana itu pahala membaca surah ini disejajarkan dengan sepertiga Al-Qur’an. Kerana ada tiga prinsip umum:
tauhid, penerapan hudud dan perbuatan hamba,
serta disebutkan dahsyatnya hari Kiamat. Ini tidaklah menghairankan bagi orang yang diberi karunia untuk membacanya dengan tadabbur dan pemahaman, hingga pahalanya disamakan dengan orang membaca sepertiga Al-Qur’an.

Oleh
Dr. Muhammad Abdurrahman Al-Khumais
[1]. Imam al-Baihaqi meriwayatkan dari ar-Rabi’ bin Sulaiman, katanya, Imam Syafi’i mengatakan : “Barangsiapa yang bersumpah dengan menyebut salah satu asma’ Allah, kemudian melanggar sumpahnya, maka ia wajib membayar kaffarat. Dan barangsiapa yng bersumpah dengan menyebut nama selain Allah, misalnya, “Demi Ka’bah”, “Demi ayahku” dan sebagainya, kemudian melanggar sumpah itu, maka ia tidak wajib membayar kaffarat.”

Suatu ketika,
penulis berbincang-bincang dengan seorang ustadz di kampung. Perbincangan sampai kepada masalah ‘ritual manaqib’ dan permasalahan-permasalahan yang ada di dalamnya. Dia bercerita bahwa salah seorang tokoh Manaqib mengatakan bahwa jika seseorang meminta kepada Allah dengan cara bertawasul kepada Syaikh Abdul Qadir Al-Jailani, ini adalah tawasul kelas TK! Tawasul (baca: istighatsah[minta tolong]) yang tingkat tinggi adalah langsung meminta kepada Syaikh Abdul Qadir tanpa Allah.
Sampai di sini saya terperanjat. SI ustadz itu juga bingung. Ketika bertanya-tanya tentang masalah ini, saya mendapat khabar bahwa banyak yang memiliki pemahaman seperti ini. Yaitu meminta tolong kepada mayat secara langsung adalah bentuk tawasul yang top.

Oleh: Ust Idris Sulaiman
SYAIKH Abdul Malik Al-Jazairi dalam kitabnya yang cukup
istimewa Sittu Durar min Usul Ahli Al-Atsar menyebut prinsip pertama
dalam dakwah Salaf adalah mengikhlaskan agama kepada ALLAH. Ikhlas
adalah asas dalam agama bahkan menjadi inti patinya.
Ikhlas itulah yang dimaksudkan dengan tauhid, di mana para rasul diutus
untuk mengajak kepadanya, yakni menghambakan diri kepada ALLAH
semata-mata. Atas dasar ini juga kitab-kitab termasuk al-Quran
diturunkan. Hal ini banyak disebut dalam ayat al-Quran, “Maka sembahlah
ALLAH secara ikhlas kepadaNya.” (Al-Zumar: 2)
Menyembah ALLAH secara ikhlas bererti menyucikan ibadah semata-mata
kepada ALLAH. Ikhlas berasal daripada perkataan khalasa bererti bersih,
suci, tidak bercampur dengan yang lain. Ini seperti mana ayat al-Quran
yang kita baca, “Katakanlah: Sesungguhnya solatku, ibadahku, hidup dan
matiku semata-mata kerana ALLAH Tuhan sekalian alam. Tiada sekutu
bagiNya. (Al-An’am: 162)