
Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal
Alhamdulillah wa shalaatu wa salaamu ‘ala Rosulillah wa ‘ala alihi wa shohbihi ajma’in.
Dari Abu Hurairah, Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wa sallam- bersabda,
الْمُؤْمِنُ الْقَوِىُّ خَيْرٌ وَأَحَبُّ إِلَى اللَّهِ مِنَ الْمُؤْمِنِ الضَّعِيفِ وَفِى كُلٍّ خَيْرٌ احْرِصْ عَلَى مَا يَنْفَعُكَ وَاسْتَعِنْ بِاللَّهِ وَلاَ تَعْجِزْ وَإِنْ أَصَابَكَ شَىْءٌ فَلاَ تَقُلْ لَوْ أَنِّى فَعَلْتُ كَانَ كَذَا وَكَذَا. وَلَكِنْ قُلْ قَدَرُ اللَّهِ وَمَا شَاءَ فَعَلَ فَإِنَّ لَوْ تَفْتَحُ عَمَلَ الشَّيْطَانِ

عَنْ عَمْرٍو بْنِ يَحْيَى المازِنِي عَنْ أَبِيهِ قَالَ: شَهِدْتُ عَمْرَو بْنَ أَبِي حَسَنٍ سَأَلَ عَبْدَ اللَّهِ بْنَ زَيْدٍ عَنْ وُضُوءِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَدَعَا بِتَوْرٍ مِنْ مَاءٍ فَتَوَضَّأَ لَهُمْ وُضُوءَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَأَكْفَأَ عَلَى يَدِهِ مِنْ التَّوْرِ فَغَسَلَ يَدَيْهِ ثَلَاثًا ثُمَّ أَدْخَلَ يَدَهُ فِي التَّوْرِ فَمَضْمَضَ وَاسْتَنْشَقَ وَاسْتَنْثَرَ ثَلَاثَ غَرَفَاتٍ ثُمَّ أَدْخَلَ يَدَهُ فَغَسَلَ وَجْهَهُ ثَلَاثًا ثُمَّ غَسَلَ يَدَيْهِ مَرَّتَيْنِ إِلَى الْمِرْفَقَيْنِ ثُمَّ أَدْخَلَ يَدَهُ فَمَسَحَ رَأْسَهُ فَأَقْبَلَ بِهِمَا وَأَدْبَرَ مَرَّةً وَاحِدَةً ثُمَّ غَسَلَ رِجْلَيْهِ إِلَى الْكَعْبَيْنِ.
وفي رواية: بَدَأَ بِمُقَدَّمِ رَأْسِهِ ثُمَّ ذَهَبَ بِهِمَا إِلَى قَفَاهُ ثُمَّ رَدَّهُمَا حَتَّى رَجَعَ إِلَى الْمَكَانِ الَّذِي بَدَأَ مِنْه
وفي رواية: أَتَى رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَأَخْرَجْنَا لَهُ مَاءً فِي تَوْرٍ مِنْ صُفْرٍ.
Hadis ke-1387:
(Kitab Riadhussolihin)
عَنْ
عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرو بْنِ الْعَاصِ رضي الله عنهما أَنَّ النَّبِيَّ
صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ بَلِّغُوا عَنِّي وَلَوْ آيَةً
وَحَدِّثُوا عَنْ بَنِي إِسْرَائِيلَ وَلَا حَرَجَ وَمَنْ كَذَبَ عَلَيَّ
مُتَعَمِّدًا فَلْيَتَبَوَّأْ مَقْعَدَهُ مِنَ النَّار
Daripada ‘Abdullah bin ‘Amru bin al-‘Ash radhiyallahu ‘anhu, bahawa Rasulullah salallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
“Sampaikanlah
dariku walau satu ayat, dan ceritakanlah tentang Bani Israil tanpa
perlu takut. Dan barangsiapa berbohong ke atasku dengan sengaja maka
bersiaplah dia mengambil tempat duduknya di Neraka.” (Riwayat
Al-Bukhari)

Oleh: Ustaz Fathul Bari (UFB)
Soalan: Saya tidak pasti tentang tawassul. Bertawassul ini boleh atau tidak? Kalau boleh, bagaimana caranya?
Jawapan:
Pertama sekali kita perlu tahu apa maksud tawassul. Tawassul berasal dari perkataan Arab وسيلة (wasiilah: perantara). Tawassala-yatawassalu-tawassulan. Yakni menjadikan sesuatu sebagai perantara di dalam kita berdoa. Kita tetap meminta daripada Allah, tetapi kita meletakkan perantara di tengah.
Di sana ada tawassul yang masyru’ (syar’i) dan ada tawassul yang mamnu’ (dilarang).

Di petik dari buku Koleksi Hadith-hadith Dhaif oleh Dr Abdul Ghani Azmi-
Hadith-hadith tentang serban.
1)Al-Khatib, Ibnu 'Adiy dan Al-Hakimmentakhrijkan daripada Ibnu Abbas r.a bahawa Rasulullah SAW bersabda:
"Hendaklah kamu berserban, nescaya bertambah kesantunan kamu." (Maudhu')
Kata Ibnu-Jauzi- Hadith ini tidak sah (maudhu'). Penyakitnya ialah Sa'id bin Salam dan 'Ubaidullah yang terdapat dalam sanadnya.
Kata Ahmad bin Hanbal: Sa'id bin Salam adalah pembohong.
Kata Yahya: Ia bukan apa-apa.
Kata al-Bukhari: Ia disebutkan dalam membuat Hadith.
Kata Ad-Daruquthni: Ia adalah matruk, ia meriwayatkan hadith-hadith yang
bathil. Demikian pula kata An-Nawawi seperti yang disebutkan oleh
Asy-Syaukani.
Apa
pula kata Ustaz Azhar Idrus?

Dari Mu’az bin Jabal radhiallahuanhu dia berkata :
Saya berkata : Ya Rasulullah, beritahukan saya tentang perbuatan yang dapat memasukkan saya ke dalam syurga dan menjauhkan saya dari neraka,
beliau bersabda: Engkau telah bertanya tentang sesuatu yang besar, dan perkara tersebut mudah bagi mereka yang dimudahkan Allah ta’ala, : Beribadah kepada Allah dan tidak menyekutukannya sedikitpun, menegakkan shalat, menunaikan zakat, puasa Ramadhan dan pergi haji.
Kemudian beliau (Rasulullah shollallohu ‘alaihi wa sallam) bersabda:
Maukah engkau aku beritahukan tentang pintu-pintu surga ?;
Puasa adalah benteng,
Sodaqoh akan mematikan (menghapus) kesalahan sebagaimana air mematikan api,
dan shalatnya seseorang di tengah malam (qiyamullail),
kemudian beliau membacakan ayat (yang artinya) : “ Lambung mereka jauh dari tempat tidurnya….”.

Pertanyaan:
Sehabis mimpi basah kalau kita ingin makan apakah haram atau tidak?
Dari: Hadi
Jawaban:
Bismillah was shalatu was salamu ‘ala rasulillah wa ba’du,
Orang yang dalam kondisi junub,
baik kerana mimpi basah atau sebab lainnya, dibolehkan melakukan
aktiviti apapun, kecuali perbuatan yang dipersyaratkan harus suci dari
hadas besar, seperti: shalat, thawaf, berdiam di dalam masjid, atau
menyentuh mushaf.